Blog / Ekonomi UMKM

Promise II siapkan perluasan ke kopi, nilam, dan susu

Ekonomi UMKMOct 19, 20263 min read

ILO menyiapkan perluasan Promise II Impact ke kopi di Lampung, nilam di Sumatera Selatan, dan susu sapi perah di Jawa Timur. Apa artinya bagi usaha lokal?

Tiga komoditas masuk fase berikutnya

Dalam briefing media pada 13 Oktober, ILO memaparkan capaian fase kedua Promise II Impact sekaligus rencana fase ketiga. Perluasan pendekatan rantai nilai akan menyasar kopi di Lampung, nilam di Sumatera Selatan, dan susu sapi perah di Jawa Timur. Program juga merencanakan replikasi sistem ERP serta penguatan infrastruktur digital BPR di berbagai wilayah. (S7) [S7]

Bagi usaha di tiga daerah itu, perubahan utamanya adalah komoditas mereka masuk ke fokus pengembangan rantai nilai program. Artinya, perhatian tidak hanya tertuju pada kebutuhan pembiayaan satu usaha, tetapi juga hubungan usaha tersebut dengan pemasok, pengolah, pembeli, dan layanan keuangan. Namun, rencana perluasan ini bukan bukti bahwa setiap UMKM di wilayah tersebut otomatis akan menerima pembiayaan atau pendampingan.

Capaian lama memberi konteks, bukan jaminan

Promise II Impact telah berjalan sejak Maret 2023. Hingga capaian fase kedua yang dilaporkan, program menjangkau pembiayaan dan tabungan formal senilai Rp584,3 miliar bagi 25.378 UMKM. Lebih dari 2.300 wirausahawan mengikuti pelatihan, dan 40 persen peserta merupakan perempuan. (S6) [S6]

Angka tersebut menunjukkan skala capaian program sebelumnya, bukan kuota atau janji hasil untuk fase ketiga. Pelaku usaha sebaiknya memisahkan dua hal: perluasan komoditas sudah diumumkan, sementara rincian mengenai siapa yang dapat ikut dan bagaimana aksesnya tidak boleh diasumsikan dari angka capaian fase sebelumnya.

Rantai pasok perlu menjadi bagian dari kesiapan usaha

Contoh dari Nusa Tenggara Timur memperlihatkan bentuk dukungan rantai nilai yang pernah diterapkan. Sistem ERP menghubungkan 216 petani rumput laut dengan 57 pengepul, sementara 24 petani memperoleh pembiayaan formal dari Bank NTT. (S6) [S6]

Contoh itu memberi gambaran bahwa pencatatan dan hubungan antarpelaku bisa menjadi bagian dari kerja rantai pasok. Tetapi, contoh rumput laut bukan jaminan bahwa mekanisme yang sama akan diterapkan persis pada kopi, nilam, atau susu sapi perah. Rencana replikasi ERP dan penguatan infrastruktur digital BPR disebut sebagai bagian dari agenda program, tanpa rincian penerapan khusus untuk tiap komoditas dalam paparan yang tersedia. (S7) [S7]

Bagi pelaku usaha, implikasi praktisnya adalah penting untuk memahami posisi bisnis dalam rantai komoditas: siapa pemasoknya, bagaimana hasil dijual, dan data usaha apa yang sudah tercatat. Catatan yang rapi dapat membantu menjelaskan kebutuhan usaha kepada calon mitra atau lembaga keuangan, meski tidak menjamin persetujuan pembiayaan.

Persiapan realistis bagi pelaku usaha

Sambil menunggu rincian pelaksanaan, pemilik usaha dapat merapikan dasar operasional tanpa menganggapnya sebagai syarat resmi program. Fokuskan persiapan pada hal-hal yang memang berguna untuk mengelola bisnis dan menjelaskan kebutuhan kepada calon mitra:

  • Catat transaksi, biaya, pembelian bahan baku, dan hasil penjualan secara konsisten.
  • Susun gambaran pemasok, pembeli, volume produksi, serta kendala yang paling memengaruhi usaha.
  • Tentukan kebutuhan yang spesifik, misalnya modal untuk produksi, akses pembeli, atau perbaikan pencatatan digital.
  • Cari informasi pelaksanaan melalui lembaga keuangan atau mitra usaha setempat, lalu pastikan syarat dan kanal aksesnya sebelum mengajukan permohonan.

Sumber

Hand your bookkeeping to macro.

Tell us about your business on WhatsApp. We explain how it works and what to prepare.